Entri Populer

Sabtu, 29 Januari 2011

KAPMI ADAKAN PENTAS SENI UNTUK KORBAN MERAPI

Untuk menghibur para pengungsi dan korban merapi, Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Indramayu (KAPMI) D.I Yogyakarta bekerja sama dengan Pattih Dharma Indramayu mengadakan pentas seni dan musik.
Acara yang digelar pada hari Sabtu, 27 November 2009 tersebut di isi Tari Topeng Kelana Indramayu, Musik Tarlingan, dan musik-musik band. Selain di isi musik-musik dari KAPMI, acara tersebut juga di isi oleh band dari warga desa tersebut.
Di awal acara, dibuka dengan penampilan Tari Topeng Kelana Indramayu yang cukup memukau para penonton. Setelah itu dilanjutkan dengan musik tarling. Musik khas dari daerah pantura tersebut cukup membuat para penonton ingin berjoged bersama. Suasana pun jadi riuh karena sebagian penonton maju kedepan untuk berjoged bersama penyanyi di panggung.
Setelah asyik dengan musik yang melandai-landai, acara dilanjutkan dengan penampilan musik-musik band. Band yang pertama dari KAPMI. Band yang digawangi oleh Yuzdi dkk tersebut melantunkan tiga lagu, Alhamdulillah dari Opik, Do’a dari Ungu, dan Jangan menyerah dari D’masive. Band yang kedua dari anak-anak warga semaken. Membawakan dua lagu yaitu Akhirnya Ku Menemukanmu dari Naff dan Tercipta Untukku dari Ungu.
Rangkaian acara tersebut diakhiri oleh penampilan dari Kanjeng Patih Dharma Band. Band Religi yang dipimpin oleh Jay tersebut tidak hanya membawakan lagu-lagu yang berbau religi, tetapi juga memberi Taushiah kepada Korban dan Pengungsi merapi yang memadati halaman Masjid al-Barakah.
Acara yang bertemakan “Dari Indramayu Untuk Semua” tersebut bertujuan untuk menghibur dan sedikit mengurangi beban para pengungsi pasca erupsi merapi yang diawali tanggal 26 Oktober silam. Hal tersebut yang diungkapkan oleh Munawir, ketua KAPMI sekaligus penaggung jawab acaranya. “acara ini sengaja kami persembahkan untuk para korban merapi,”tuturnya.
Secara terpisah, Magio salah satu pengungsi memaparkan bahwa dirinya cukup senang dengan adanya acara tersebut. Karena selain menghibur tapi bisa sedikit mengurangi kesedihan, maklum Bapak beranak dua tersebut sudah tidak punya tempat tinggal lagi akibat terjangan abu dan awan panas merapi. “Alhamdulillah saya bisa sedikit terhibur dengan acara ini,”ungkapnya setelah acara tersebut selesai.
Lain lagi dengan novi, salah satu remaja korban merapi. Menurutnya selain acara tersebut bisa menghibur tetapi juga bisa melihat budaya dari indramayu seperti tari topeng dan musik tarling Indramayu. “Cukup menghibur, tapi penasaran dengan tari topengnya,” ungkap gadis berkulit sawo matang tersebut.

AKU BANGGA JADI ORANG INDRAMAYU


Barangkali  sudah kodratnya kalau Indramayu selalu menjadi sorotan terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi di negeri ini. Fenomena kawin muda, Prostitusi, sampai menjadi penyuplai TKW terbanyak. Semuanya seakan sudah menjadi konsumsi berjamaah para penikmat berbagai media dari TV, Radio, dan surat kabar. Sehingga cap negatif tersebut mungkin akan terus melekat sampai kapanpun.
            Indramayu sesungguhnya merupakan sebuah gambaran betapa gagalnya pemerintahan kita. Dari sekian persoalan yang muncul tersebut akhirnya bisa kita simpulkan akarnya yaitu persoalan ekonomi. Kalau saja pemerintah bisa mengembangkan potensi-potensi yang ada di daerah sehingga bisa dijadikan sebagai mata pencaharian warga indramayu. Masyarakat tidak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk mengais rizki, masyarakat tidak harus menjual kehormatannya demi memenuhi sesuap nasi.
            Kita terkadang merasa minder menyebut diri kita sebagai orang Indramayu. Penulis sendiri masih ingat ketika mendapat cerita dari temannya, bahwa ada beberapa orang Indramayu tidak mau mengakui identitas dirinya sebagai orang Indramayu. Mereka lebih pede mungkin menyebut dirinya sebagai orang Cirebon misalnya, meskipun sebenarnya dari segi sosio-kultural tidak jauh berbeda. Cap-cap negatif tersebut wajar dijadikan sebagai alasannya. Tetapi pertanyaannya apakah dengan penghindaran diri kita sebagai orang indramayu bisa selesai masalahnya. Tentu kita akan malu kalau sampai ada teman satu daerah yang mengetahuinya. Dan seharusnya kita juga malu kepada Raden Wiralodra yang diyakini sebagi pendiri indramayu itu.
            Dari sisi historinya kita memang tidak bisa menampik misalnya banyak yang menyebut bahwa ketika zaman perang melawan Belanda dulu, Indramayu menjadi salah satu tempat penyanderaan para budak-budak wanita yang dijadikan sebagai pelampiasan nafsu para tentara belanda. Atau zaman kerajaan dulu bahwa wanita-wanita indramayu banyak yang dijadikan sebagai selir-selir  Raja karena kecantikannya. Jadi tidak wajar kalau stereotype tersebut masih melekat sampai sekarang. Tapi penulis tidak bermaksud untuk bersama-sama mengamini itu lantas kita pasrah dan itu dianggap sebagi kodrat sehingga tidak akan bisa dirubah.
            Apa belum cukup bukti bahwa dibalik cap negatif Indramayu tersebut tersimpan berbagai kekayaan yang sesungguhnya patut kita banggakan. Misalnya pertamina yang ada di Indramayu merupakan salah satu penyuplai BBM terbesar di negeri ini dan serta merta menambah kantung pendapatan negeri ini. TKW sejujunya juga merupakan sumber pendapatan Negara atau biasa orang-orang sebut sebagai pahlawan devisa. Terlepas dari cap-cap negatif yang disematkan masyarakat terhadap TKW. Dari sisi pertanian, Indramayu juga merupakan salah satu daerah penghasil beras terbesar di Indonesia. Itu artinya masyarakat Indonesia berharap banyak so’al ketahanan pangan kepada Indramayu. So’al bahasa pun ternyata kita harus bangga karena menurut berbagai peneliti sejarah banyak yang meyakini bahwa Bahasa khas pantura yang biasa disebut bahasa ngapak merupakan salah bahasa tertua di negeri ini. Bukan tanpa alasan karena yang paling mendekati bahasa kawi adalah bahasa ngapak. Bahasa tanpa sekat dan kasta-kasta. Lalu, mau cari alasan apalagi untuk tidak bangga terhadap daerah kita tercinta Indramayu. Mari kita bersama-sama memotong sejarah kelam tersebut. Syaratnya Cuma dua. Pendidikan dan siap untuk mendidik.
Oleh : Munawir Al-Kailani, Manusia yang terlahir dari rahim Indramayu.