Barangkali sudah kodratnya kalau Indramayu selalu menjadi sorotan terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi di negeri ini. Fenomena kawin muda, Prostitusi, sampai menjadi penyuplai TKW terbanyak. Semuanya seakan sudah menjadi konsumsi berjamaah para penikmat berbagai media dari TV, Radio, dan surat kabar. Sehingga cap negatif tersebut mungkin akan terus melekat sampai kapanpun.
Indramayu sesungguhnya merupakan sebuah gambaran betapa gagalnya pemerintahan kita. Dari sekian persoalan yang muncul tersebut akhirnya bisa kita simpulkan akarnya yaitu persoalan ekonomi. Kalau saja pemerintah bisa mengembangkan potensi-potensi yang ada di daerah sehingga bisa dijadikan sebagai mata pencaharian warga indramayu. Masyarakat tidak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk mengais rizki, masyarakat tidak harus menjual kehormatannya demi memenuhi sesuap nasi.
Kita terkadang merasa minder menyebut diri kita sebagai orang Indramayu. Penulis sendiri masih ingat ketika mendapat cerita dari temannya, bahwa ada beberapa orang Indramayu tidak mau mengakui identitas dirinya sebagai orang Indramayu. Mereka lebih pede mungkin menyebut dirinya sebagai orang Cirebon misalnya, meskipun sebenarnya dari segi sosio-kultural tidak jauh berbeda. Cap-cap negatif tersebut wajar dijadikan sebagai alasannya. Tetapi pertanyaannya apakah dengan penghindaran diri kita sebagai orang indramayu bisa selesai masalahnya. Tentu kita akan malu kalau sampai ada teman satu daerah yang mengetahuinya. Dan seharusnya kita juga malu kepada Raden Wiralodra yang diyakini sebagi pendiri indramayu itu.
Dari sisi historinya kita memang tidak bisa menampik misalnya banyak yang menyebut bahwa ketika zaman perang melawan Belanda dulu, Indramayu menjadi salah satu tempat penyanderaan para budak-budak wanita yang dijadikan sebagai pelampiasan nafsu para tentara belanda. Atau zaman kerajaan dulu bahwa wanita-wanita indramayu banyak yang dijadikan sebagai selir-selir Raja karena kecantikannya. Jadi tidak wajar kalau stereotype tersebut masih melekat sampai sekarang. Tapi penulis tidak bermaksud untuk bersama-sama mengamini itu lantas kita pasrah dan itu dianggap sebagi kodrat sehingga tidak akan bisa dirubah.
Apa belum cukup bukti bahwa dibalik cap negatif Indramayu tersebut tersimpan berbagai kekayaan yang sesungguhnya patut kita banggakan. Misalnya pertamina yang ada di Indramayu merupakan salah satu penyuplai BBM terbesar di negeri ini dan serta merta menambah kantung pendapatan negeri ini. TKW sejujunya juga merupakan sumber pendapatan Negara atau biasa orang-orang sebut sebagai pahlawan devisa. Terlepas dari cap-cap negatif yang disematkan masyarakat terhadap TKW. Dari sisi pertanian, Indramayu juga merupakan salah satu daerah penghasil beras terbesar di Indonesia. Itu artinya masyarakat Indonesia berharap banyak so’al ketahanan pangan kepada Indramayu. So’al bahasa pun ternyata kita harus bangga karena menurut berbagai peneliti sejarah banyak yang meyakini bahwa Bahasa khas pantura yang biasa disebut bahasa ngapak merupakan salah bahasa tertua di negeri ini. Bukan tanpa alasan karena yang paling mendekati bahasa kawi adalah bahasa ngapak. Bahasa tanpa sekat dan kasta-kasta. Lalu, mau cari alasan apalagi untuk tidak bangga terhadap daerah kita tercinta Indramayu. Mari kita bersama-sama memotong sejarah kelam tersebut. Syaratnya Cuma dua. Pendidikan dan siap untuk mendidik.
Oleh : Munawir Al-Kailani, Manusia yang terlahir dari rahim Indramayu.
apa yang mesti dibanggain dr kampung lu itu, seluruh indonesia bahkan di malaysia & brunei pun tau, klu indramayu itu terkenal dengan wanita malamnya, lo mngkn tau sendiri khidupan mlam disitu gmn, plcuran dimana2 (lu liat aja di daerah sukra, patrol, haurgelis, karang ampel dll bnyk bnget kafe2 esek2 ), hey coy gua prnh kerja di indramayu, waktu gua disana, gua pikir dosa apa gua dpt pnempatan kerja di tanahnya para bajingan ini, yg lbh parah orang2nya coy, klu yg perempuan jdi Psk/atau kerja di kafe esek2, atau jd tkw di arab atau taiwan (pulang2 udh gendut aj, pas brojol anknya yg nongol mukanya agak2 arab/cina, klu yg laki lbh parah lagi, kerjanya mabok, judi atau main perempuan di kafe esek2, orang2nya jg bukan tipikal pekerja keras, maunya kerja sedikit dapet duit bnyak, makanya disitu bnyk preman kelas lokal, (punya prinsip ''sapa sira'',) klu lo banggain pertamina ada disitu trus mnghasilkan berbarel2minyak disitu lo salah coy, tmn gua kerja dipertamina dia bilang produksi di field jatibarang dll( skitaran indramayu) ga gede bahkan bisa dibilang kecil, slain itu tmn gua bilang jg klu ngebor disana masyarakatnya rese, ya memang pada dasarnya indramayu itu negerinya para bajingan
BalasHapus